Seratus Hari Pemerintahan SBY yang Kehilangan Fokus

1 02 2010

Artikel ini dimuat di detik.com pada tanggal 28 Januari 2010, bertepatan dengan 100 hari pemerintahan KIB jilid II yang dipimpin oleh SBY

Angka merah layak diperoleh oleh pemerintahan dibawah kepemimpinan SBY dalam seratus hari kepemimpinannya. Ia kurang mampu mengelola modal kemenangannya secara mutlak pada pemilihan presiden kemarin. Padahal Partai Demokrat, partai yang mendukungnya, juga melaju di depan sebagai pemenang dalam pemilihan legislatif mengalahkan rival terberatnya yaitu PDI Perjuangan dan Golkar. Modal yang sangat besar ini tidak mampu dikelolanya dengan baik untuk mengektifkan pemerintahannya.

Angka merah itu berasal dari kelambanannya dalam bersikap dalam menghadapi perseteruan antar lembaga penegak hukum di Indonesia. Perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dengan kepolisisan serta kejaksaan. Sehingga seluruh energi dan perhatian masyarakat terfokus pada perseteruan cicak vs buaya ini yang pada akhirnya mengaburkan program kerja pemerintah yang lain. Presiden dinilai kurang tegas dalam bersikap. Presiden baru mengambil sikap setelah muncul tekanan dari masyarakat yang luar biasa. Jika presiden sejak awal bersikap tegas dan cepat mengambil keputusan dengan menonaktifkan pejabat yang menjadi aktor pertikaian maka masalah itu tidak akan berlarut-larut.

Berikutnya yang sekarang masih menjadi bola panas adalah kasus Bank Century. Seandainya Presiden dengan berani mengambil tanggung jawab atas penyelamatan Bank Century, niscaya energi seluruh bangsa ini akan tersalurkan untuk hal-hal lainnya yang menunggu untuk diselesaikan. Seandainya Presiden yakin bahwa keputusan penyelamatan Bank Century itu diambil secara benar demi menyelamatkan ekonomi Indonesia, SBY tak perlu ragu. Sehingga masyarakat tidak bertanya-tanya tentang keputusan penyelamatan Bank Century ini siapa yang bertanggung jawab.

Kedua masalah di atas telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya seorang pemimpin yang tegas dan cepat dalam mengambil keputusan. Bangsa ini membutuhkan  pemimpin yang tegas dan cepat dalam mengambil keputusan. Bukan seorang pemimpin yang hanya mempermak penampilannya di hadapan publik. Kita tidak butuh pemimpin yang lambat mengambil keputusan yang hanya memperbaiki citra dirinya sendiri. Betapa pentingnya sikap tegas seorang pemimpin dalam memutus atau menyikapi suatu perkara. Berbagai persoalan yang membelit bangsa ini mengingatkan kita akan hal ini. Tetapi tentu saja ketegasan seorang pemimpin haruslah ketegasan yang dimulai dari pemahaman yang menyeluruh atas segala masalah yang dihadapi bangsa ini. Bukan ketegasan yang sembrono dan sewenang-wenang.

Ketegasan seorang pemimpin ini merupakan nilai kepemimpinan universal yang mutlak diperlukan seorang pemimpin. Penundaan keputusan akan menimbulkan ongkos yang mungkin tak kan terbayar dan bisa berakibat fatal. Bayangkan seorang penerjun payung yang harus tepat kapan harus membuka payungnya. Pada saat yang sama ia juga harus bisa membaca arah angin dan ketinggian yang tepat kapan payungnya akan dibuka. Ia tidak boleh terlalu cepat membuka payungnya karena akan melayang di tempat yang jauh dan sehingga tersesat. Tetapi kalau ia membuka terlambat sebentar saja, maka ia akan terjerembab dan jatuh. Bayangkan jika penerjun payung ini membawa seluruh rakyat Indonesia. Maka keputusan yang tepat dan diambil pada waktu yang tepat akan menyelamatkan semua orang. Sebaliknya, jika keputusan yang salah dan diambil pada waktu yang salah akan mencelakakan seluruh rakyat Indonesia.

Memang seratus hari pertama tak cukup untuk menghakimi pemerintahan yang masih akan berkuasa sampai 2014. Tetapi masa awal ini, Presiden belum bisa meyakinkan kepada masyarakat bahwa pemerintahannya akan berjalan dengan efektif. Padahal ini adalah pengalaman keduanya memimpin bangsa ini. Seharusnya dengan pengalaman selama lima tahun sudah cukup menjadi pelajaran dalam memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Kedepannya, harapan kami semua para pemimpin yang memimpin negeri ini adalah pemimpin yang tegas. Pemimpin pemimpin yang tegas akan mengarahkan dan membersihkan masyarakat dari segala perilaku yang menyimpang. Pemimpin yang bisa menjadi teladan yang baik (role model) yang membawa kebaikan di segenap sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan pemimpin yang yang buruk. Pemimpin yang buruk hanya akan menambah keburukan pada masyarakatnya sendiri, sebab rakyatnya akan berfikir sederhana, bila ada pemimpin yang berbuat menyimpang, lalu dihukum dengan sanksi yang ringan, bahkan dipenjaranya pun tidak seperti penjara sebagaimana umumnya, dipenjara dalam ruang tahanan menyerupai hotel berbintang, mengapa rakyat tidak boleh berbuat yang sama? Sehingga akan muncul contoh yang buruk dari para pemimpinnya yang akan membawa kerusakan dimana-mana. Masih ada cukup waktu bagi pemerintah untuk mengerjar target program-programnya yang belum berhasil di seratus hari pertama. Asalkan Presiden mampu mampu untuk mempertimbangkan segala aspek dari keputusan yang akan diambil, serta menetapkan keputusan pada waktu dan kondisi yang tepat.





Ketegasan Seorang Pemimpin

28 01 2010

Salah satu nilai kepemimpin yang mutlak diperlukan dalam mempimpin negara yang majemuk ini adalah ketegasan seorang pemimpin. Ketegasan seorang pemimpin adalah kemampuan untuk mempertimbangkan segala aspek dari keputusan yang akan diambil, serta menetapkan keputusan pada waktu dan kondisi yang tepat. Ketegasan seorang pemimpin inilah yang belum dimiliki oleh pemimpin negara ini. Berlarut-larutnya masalah Bibit Candra KPK kemarin menjadi buktinya. Sekarang masalah Bank Century pun juga sama. Seluruh energi bangsa ini terserap habis hanya untuk memikirkan masalah Bank Century yang berlarut-larut. Diperlukan ketegasan seorang pemimpin untuk menyelesaikan dengan cepat masalah ini. Sehingga fokus masyarakat Indonesia tidak hanya ke masalah Bank Century ini. Masih banyak masalah lain yang menunggu kerja keras kita semua untuk menyelesaikannya.

Ketegasan seorang pemimpin ini merupakan nilai kepemimpinan universal yang mutlak diperlukan seorang pemimpin. Penundaan keputusan akan menimbulkan ongkos yang mungkin tak kan terbayar dan bisa berakibat fatal. Bayangkan seorang penerjun payung yang harus tepat kapan harus membuka payungnya. Pada saat yang sama ia juga harus bisa membaca arah angin dan ketinggian yang tepat kapan payungnya akan dibuka. Ia tidak boleh terlalu cepat membuka payungnya karena akan melayang di tempat yang jauh dan sehingga tersesat. Tetapi kalau ia membuka terlambat sebentar saja, maka ia akan terjerembab dan jatuh. Bayangkan jika penerjun payung ini membawa seluruh rakyat Indonesia. Maka keputusan yang tepat dan diambil pada waktu yang tepat akan menyelamatkan semua orang. Sebaliknya, jika keputusan yang salah dan diambil pada waktu yang salah akan mencelakakan seluruh rakyat Indonesia.

Kita butuh pemimpin yang tegas dan cepat dalam mengambil keputusan. Bukan seorang pemimpin yang hanya mempermak penampilannya di hadapan publik. Kita tidak butuh pemimpin yang lambat mengambil keputusan yang hanya memperbaiki citra dirinya sendiri.

Betapa pentingnya sikap tegas seorang pemimpin dalam memutus atau menyikapi suatu perkara. Berbagai persoalan yang membelit bangsa ini mengingatkan kita akan hal ini. Tetapi tentu saja ketegasan seorang pemimpin haruslah ketegasan yang dimulai dari pemahaman yang menyeluruh atas segala masalah yang dihadapi bangsa ini. Bukan ketegasan yang sembrono dan sewenang-wenang.

Menginjak 100 hari pemerintahan pemimpin negeri ini, sudah sepantasnya pera pemimpin kita melakukan introspeksi kepemimpinan mereka. Evaluasi ini tidak hanya seputar pada program kerja mereka saja, tetapi juga introspeksi kepada nilai – nilai kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin. Termasuk di dalamnya apakah selama ini pemimpin tersebut sudah memiliki sikap ketegasan atau belum. Pemimpin yang bijak akan melakukan introspeksi diri secara berkelanjutan. Pemimpin ini tidak boleh terjebak dalam suatu skenario yang dimanfaatkan orang lain. Pemimpin harus tegas dalam bersikap. Pemimpin tidak boleh tunduk kepada pemilik modal yang menyimpan kepentingan tersembunyi.

Kedepannya, harapan kami semua para pemimpin yang memimpin negeri ini adalah pemimpin yang tegas. Pemimpin pemimpin yang tegas akan mengarahkan dan membersihkan masyarakat dari segala perilaku yang menyimpang. Pemimpin yang bisa menjadi teladan yang baik (role model) yang membawa kebaikan di segenap sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan pemimpin yang yang buruk. Pemimpin yang buruk hanya akan menambah keburukan pada masyarakatnya sendiri, sebab rakyatnya akan berfikir sederhana, bila ada pemimpin yang berbuat menyimpang, lalu dihukum dengan sanksi yang ringan, bahkan dipenjaranya pun tidak seperti penjara sebagaimana umumnya, dipenjara dalam ruang tahanan menyerupai hotel berbintang, mengapa rakyat tidak boleh berbuat yang sama? Sehingga akan muncul contoh yang buruk dari para pemimpinnya yang akan membawa kerusakan dimana-mana.


Penulis adalah Mahasiswa Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung.





JINGLE PILKADA NGAWI 2010

23 01 2010

Kami pemuda pemudi asli kota Ngawi

Siap mendukung maju kandidat pilihan rakyat

Kandidat yang hebat, kandidat yang pasti amanah


Jadikan Ngawi kreatif, nyaman, dan sejahtera

Ciptakan rakyat Ngawi cerdas dan bersahaja

Yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing


Jadikan pelangi payung agung kota Ngawi

Jadikan dirinya yang duduk di singgasana orang yang bijaksana

Untuk menggapai rakyat yang adil dan sejahtera





Ngawi is Ours

21 01 2010

The world is ours,

The nation is ours,

The society is ours,

If we do not speak,

Who will speak?

If we do not act,

Who will act?

If we do not rise up and fight,

Who will rise up and fight?





Introspeksi Kepemimpinan

20 01 2010

Artikel ini dimuat di detik.com pada tanggal 20 Januari 2010.

Penulis adalah Mahasiswa Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung

Seratus hari program SBY sebentar lagi usai. Namun SBY sudah puas atas pencapaian yang telah dilakukan para menterinya yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II. Hal itu disampaikan dalam rapat paripurna cabinet di Istana Negar, Kamis 14 Januari 2010.

Evaluasi 100 hari kepemimpin ini hanyalah sekilas dari pergeseran yang terjadi di masyarakat dan lingkungan kita. Sehingga kita semua jangan terpukau dengan pernyataan presiden yang menyatakan puas atas kinerja pemerintahannya 100 hari pertama.

Pemimpin yang bijak akan melakukan introspeksi diri secara berkelanjutan. Pemimpin ini tidak boleh terjebak dalam suatu skenario yang dimanfaatkan orang lain. Pemimpin harus tegas dalam bersikap. Pemimpin tidak boleh tunduk kepada pemilik modal yang menyimpan kepentingan tersembunyi. Dan yang tidak kalah penting juga pemimpin harus menyelamatkan rakyatnya dari kegagalan daripada mengatrol popularitas pribadinya.

Kini bangsa Indonesia yang berpenduduk 230 juta dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk kedua kalinya. Ia masih terkesan kurang tegas dalam memimpin meskipun ini kali kedua SBY menjabat menjadi presiden. Kini ia terus diuji dengan berbagai macam tantangan. Yang paling  menonjol ke permukaan dalam 100 hari kepemimpinannya adalah masalah Bank Century.

Dalam 100 hari kepemimpinannya apakah yang bisa dipelajari dan ditiru oleh masyarakat yang dari karakter dan gaya hidup para pemimpinnya? Apakah masyarakat mendapatkan inspirasi untuk mengatasi persoalan hidup yang semakin menekan, karena mereka menyaksikan para pemimpinnya betul-betul peduli dengan penderitaan rakyatnya. Atau yang terjadi justru sebaliknya, karena pemimpinnya kurang bisa berempati kepada masyarakat, hanya memikirkan kecukupan fasilitas pribadi ditengah hancurnya berbagai macam fasilitas publik? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dijawab oleh rakyat sendiri.

“Memimpin adalah menderita,” begitu ucapan KH. Agus Salim. Bagi mereka yang ingin dipuji dan hanya mengejar popularitas, silakan menyingkir dari kepemimpinan nasional. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang siap menderita demi melayani seluruh rakyatnya. Bukan pemimpin yang kurang tegas, terlambat dalam bertindak.

Kedepannya, harapan kami semua para pemimpin yang memimpin negeri ini adalah pemimpin yang baik. Pemimpin pemimpin yang baik mengarahkan dan membersihkan masyarakat dari segala perilaku yang menyimpang. Pemimpin yang bisa menjadi teladan yang baik (role model) yang membawa kebaikan di segenap sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan pemimpin yang yang buruk. Pemimpin yang buruk hanya akan menambah keburukan pada masyarakatnya sendiri, sebab rakyatnya akan berfikir sederhana, bila ada pemimpin yang berbuat menyimpang, lalu dihukum dengan sanksi yang ringan, bahkan dipenjaranya pun tidak seperti penjara sebagaimana umumnya, dipenjara dalam ruang tahanan menyerupai hotel berbintang, mengapa rakyat tidak boleh berbuat yang sama? Sehingga akan muncul contoh yang buruk dari para pemimpinnya yang akan membawa kerusakan dimana-mana.





Menanggapi Baliho Pengenalan Diri BALON Bupati Ngawi Mulai Marak

20 01 2010

Artikel ini dimuat di beritajatim.com pada tanggal 20 Januari 2010

Perang baliho bergambar pasangan balon Bupati Ngawi pun kian kentara. Sudah tidak secara sembunyi-sembunyi lagi. Media pengenalan diri itu tidak hanya menjamur di kawasan strategis sudut kota, melainkan juga merambah daerah pelosok. Meskipun lebih banyak ditemukan di desa-desa. Ini bukan karena tidak ada alasan. Belum terdidiknya masyarakat desa, kantong-kantong suara ada di desa menjadikan para balon ini memasang balihonya di desa. Selain juga dengan alasan sembunyi-sembunyi tadi.

Pantauan secara sekilas, dan ini dibenarkan oleh berita radar madiun, pasangan Budi Sulistyono-Ony Anwar Harsono mendominasi hampir di seluruh kawasan, baik perkotaan maupun pedesaan. Balon lain pun tidak mau kalah, meskipun jumlahnya tidak sebanyak pasangan Budi Sulistyono-Ony Anwar Harsono, terpasang juga baliho yang bergambar Tri Suyono, Maryudhi Wahyono, dan Ratih Sanggarwati yang belum memiliki pasangan.

Siapa yang bertanggung jawab terkait masalah ini? KPUD setempat pun melalui ketuanya Sunarto, mengatakan bahwa maraknya baliho tersebut di luar kewenangan KPUD. Pihaknya sebatas penyelenggara jalannya pesta demokrasi lokal yang rencananya dihelat 12 Mei nanti. Menurutnya, Panwas pilkada yang berhak menangani permasalahan tersebut. Hanya saja lembaga pengawas itu belum terbentuk, masih tahap usulan ke Bawaslu.”Itu bukan ranah kami,menunggu pembentukan panwas pilkada,” terangnya.

Maraknya baliho pengenalan balon Bupati Ngawi hanyalah snapshot dari pergeseran yang terjadi di masyarakat kita. Jangan terpukau oleh balon-balon yang berseliweran lewat balihonya di pingir-pinggir jalan, karena mereka bukanlah penentu sejarah yang sebenarnya. Kebanyakan mereka seperti wayang yang dimainkan sang dalang di balik layar. Dalang yang akan menentukan kapan saatnya pertunjukkan dimulai dan diakhiri. Dalang pula yang akan menentukan wayang mana saja yang akan ditampilkan setiap episode.

Bahkan dalang itu sendiri sejatinya diarahkan oleh penulis skenario. Sehingga tidak boleh keluar dari pakem yang telah ditentukan. Penulis skenario terlihat lebih berkuasa dari dalang. Tetapi dalam dunia yang serba materialistik ini, sebenarnya produser atau investorlah yang menjadi pemegang kekuasaan sesungguhnya. Tanpa modal awal yang memadai, maka pertunjukkan bisa batal sebelum dimulai.

Pada akhirnya nanti, masyarakat Ngawi lah yang akan menjadi hakim penentu legitimasi kepemimpinan. Untuk proses seleksi sepatutnya melibatkan partisipasi yang genuin dari seluruh kelompok masyarakat. Bukan semata iklan lewat baliho atau media massa lainnya. Bagi kandidat yang mencitrakan diri sebagai pembela nasib petani atau pedagang kecil, misalnya, harus dibuktikan dengan track record : apakah sepanjang kariernya terlihat pemihakan yang jelas terhadap petani gurem dan pedagang informal yang semakin terpinggirkan?

Kandidat lain yang mencitrakan diri anti kemiskinan dan anti korupsi, mesti dicek : apakah seluruh daftar kekayaannya telah dilaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)? Sehingga tidak sepeser pun uang dikantongnya atau sepetak pun tanah yang dikoleksinya berasal dari dana haram, seperti bribery, gratification, embezzlement, atau money laundering.





Ganesha Muda Menyongsong Perdagangan Bebas

19 01 2010

Perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China cepat atau lambat akan menghancurkan sendi sendi industri di dalam negeri. Perjanjian Zona Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) itu sudah dimulai sejak terhitung 1 Januari 2010. Ini merupakan perjanjian perdagangan bebas kedua yang di jalankan oleh Indonesia setelahASEAN Free Trade Zone (AFTA) di awal tahun 2000an. Sejak diberlakukan area perdagangan bebas ini bisa dikatakan Indonesia belum cukup stabil dalam manghadapi area perdagangan bebas. Dalam beberapa hal justru perjanjian ini merugikan Indonesia yang belum siap secara kapasitas sumber daya manusia dan kualitas infrastruktur pendukung.

Diberlakukannnya ACFTA di tahun 2010 ini memang belum begitu terasa dampaknya. Karena pada dasarnya infiltrasi dari produk China belum begitu signifikan secara jumlah. Akan tetapi, hanya tinggal menunggu waktu hingga ekonomi kita di Indonesia semakin tergerus oleh pengaruh ekonomi China. Contoh nyata sudah mulai terlihat, jika berkunjung ke pasar swalayan. Maka, akan terlihat bahwa harga buah-buahan “mandarin” atau “made in china” lebih murah ketimbang buah-buahan lokal seperti mangga manalagi atau apel malang. Tentu hal ini sudah menjadi ancaman tersendiri bagi produk lokal kita yang gagal bersaing dengan produk asing, khususnya China.

Beberapa sektor yang akan terkena dampak langsung berpotensi terhadang pasca ACFTA antara lain:

1.       Industri Permesinan

2.       Sektor Perkebunan dan Pertanian

3.       Industri Makanan dan Minuman

4.       Industri Petrokimia

5.       Industri Plastik

6.       Industri Tekstil, dan Produk Tekstil

7.       Industri Alas Kaki

8.       Industri Elektronik dan Peralatan Listrik

9.       Industri Besi Baja

10.   Jasa Permesinan

Dari sektor yang terancam diatas semuanya sangat berkaitan dengan sains dan teknologi yang tentu sangat juga berkaitan dengan ITB sebagai Institut pendidikan yang berkaitan dengan Teknologi dan Sains. Prof. Zuhal –rektor Al Azhar Indonesia- berpendapat bahwa ekonomi Indonesia ditopang oleh semangat konsumtifme yang merajalela. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya Mall, atau Shopping Plaza secara besar-besaran dalam satu dekade terakhir. Hal ini sangat bertentangan –lanjut Prof.Zuhal- dengan penduduk Taiwan yang menolak pembangunan sebuah Shopping Plaza dan lebih memilih untuk dibangun sebuah pabrik agar terbuka lapangan kerja baru.

Perbedaan paradigma pun terjadi antara alumni muda di Indonesia dan luar Indonesia. Dalam sebuah diskusi di dunia maya yang pernah saya lakukan dengan seorang alumnus muda Universitas Teknologi Malaysia, beliau justru memiliki pandangan tersendiri yang positif tentang ACFTA ini. Beliau menilai bahwa adanya perdagangan bebas ini memberikan kesempatan besar untuk jaringan pengusaha maupun akses beasiswa untuk perkuliahan pasca-sarjana. Ini merupakan masalah tersendiri, ketika di Malaysia ada seorang alumnus muda yang berpikir bahwa perdagangan bebas adalah sesuatu yang positif, pengusaha kita di Indonesia justru khawatir bahwa mereka akan mengalihkan mereka bukan lagi sebagai pengusaha tetapi sebagai pedagang.

Sebagai seorang mahasiswa ITB tentu kita tidak boleh hanya diam, sebagai bagian dari 5 juta mahasiswa yang ada di Indonesia kita dituntut untuk mampu berbuat banyak. Walau memang, berkaitan dengan ekonomi makro, mahasiswa belum bisa berbuat banyak. Karena memang porsi mahasiswa dalam hal ini adalah sebagai objek dari dampak perdagangan bebas ini. Akan tetapi, sekecil apapun peran kita, kita harus bisa bergerak dan berbagi inspirasi untuk Indonesia.

Hal sederhana yang bisa dilakukan oleh mahasiswa tentu adalah memulai dengan perbanyak diskusi dan kajian tentang perdagangan bebas, sehingga wacana tentang dampak perdagangan bebas ini bisa terinternalisasi dengan baik. Dengan banyaknya diskusi ini, mahasiswa akan semakin memiliki pandangan yang luas dan lebih sadar akan ancaman krisis yang mendatangi Indonesia.

Merubah kebiasaan hidup dengan membeli produk asli Indonesia, saat krisis 1998 teringat ada propagandakami cinta produk Indonesia. Kita bisa memulai dengan terbiasa untuk membeli produk dalam negeri agar para pengusaha dalam negeri kita juga terbantu dengan apa yang kita lakukan. Pada langkah lebih lanjut, mahasiswa diharapkan mampu menyiapkan diri untuk pasca kampus dengan mempersiapkan segala hal, sehingga saat sudah lulus mahasiswa ITB tidak berpikir saya akan kerja dimana ? tetapi ia berpikir saya akan membuat lapangan kerja dimana ?.

Mahasiswa dengan kecerdasan intelektualitas memiliki tanggung jawab untuk memberi ketenangan bagi masyarakat umum dalam membangun Indonesia dalam menghadapi tantangan ini. Jangan sampai justru mahasiswa menjadi beban bagi negara. Ini satu momen penting dalam pembangunan Indonesia, dimana jika kita bisa mampu melewati masa ini dengan baik, maka Indonesia kedepannya akan mampu menjadi satu kekuatan ekonomi tersendiri di dunia. Teringat saat krisis dunia 2008 lalu Indonesia bisa menjadi salah satunegara yang bisa bertahan menghadapi badai krisis tersebut. Itu artinya Indonesia memiliki dasar kekuatan daya saing yang mampu berkompetisi dengan dunia.

Ditulis oleh Ridwansyah Yusuf Achmad

Presiden Keluarga Mahasiswa ITB





Dicari Pemimpin yang Amanah

16 01 2010

Artikel ini dimuat di detik pada tanggal 14 Januari 2010, inilah.com dan beritajatim.com pada tanggal 12 Januari 2010

Kita semua masyarakat Indonesia setuju bahwa pemimpin yang  amanah adalah faktor yang sangat mendesak dan penting untuk menjaga masa depan Indonesia. Pemimpin yang amanah ini mutlak diperlukan bagi pemimpin bangsa ini di segala tingkatan, tidak hanya berlaku kepada presiden dan menteri saja. Semua kita setuju untuk memilih pemimpin yang bisa amanah ini.

Lalu apakah pemimpin yang amanah itu? Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang dapat dipercaya. Dapat dipercaya dalam artian ia harus memiliki kepercayaan dari masyarakat dan dapat melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Bagaimana criteria pemimpin yang amanah itu? Yaitu pemimpin yang memiliki karakter mampu mengaktualisasi nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa dalam setiap kehidupan sehari-harinya, baik itu di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Pemimpin yang amanah ini akan mampu menerapkan nilai-nilai luhurnya dan dapat memberi contoh keteladan yang baik kepada masyarakat.

Seorang pemimpin sudah semestinya memiliki karakter dan rekam jejak yang bersih. Harus dicegah sedini mungkin pemimpin yang cacat moral untuk bisa berlenggang-kangkung menjadi kepala daerah maupun pemimpin di tingkat pusat.

Negeri ini membutuhkan pemimpin yang amanah yang dapat dijadikan role model, teladan yang baik demi membawa perbaikan di segenap sektor kehidupan. Pemimpin yang amanah akan mampu mengarahkan dan membersihkan masyarakat yang dipimpinnya dari segala perilaku yang menyimpang. Ia pasti akan diikuti oleh rakyat yang dipimpinya karena masyarakat sudah percaya kepada pemimpin ini. Sebaliknya pemimpin yang tidak bisa amanah hanya akan menambah keburukan pada masyarakatnya sendiri karena masyarakat tidak bisa mempercayai pemimpin yang tidak amanah ini. Ia akan menjadi contoh yang buruk yang akan akan diikuti oleh masyarakat yang dipimpinnya. Masyarakat akan berfikir kalau pemimpin saya boleh berbuat melanggar hukum, kenapa kami masyarakat tidak boleh. Tentu pemimpin seperti ini akan seperti bola salju yang akan terus merusak masyarat yang dipimpinnya.

Menjadi pemimpin jelas bukanlah tugas yang amatiran. Proses seleksi yang panjang harus dilalui setiap jenjang. Godaan bagi seorang pemimpin seringkali sangat sederhana, yaitu menguji karakter aslinya. Apakah ia seorang pemimpin yang amanat atau pemimpin yang suka berkhianat? Apakah ia benar-benar peduli akan nasib rakyat atau hanya memikirkan diri sendiri, keluarga, kelompok, dan partainya sendiri?





Tari Saman Rasa Digital

16 01 2010

Berita aslinya di Majalah Tempo yang terbit pada 10 Januari 2010. Ini adalah karya Tim PUTRI PETIR HME ITB. Dan salah satu anggotanya yaitu Nadhilah Sabrina adalah staff saya di Sektor Akademik dan Keprofesian GAMAIS ITB. Saya ucapkan selamat dan turut berbahagia.

KARINA Asri Maya memang bukan penari. Tapi dia suka mengamati permainan Dance Dance Revolution (DDR)—game tarian yang unik, energik, dan modern. Selain menghibur, permainan yang bermanfaat untuk gerak badan itu sudah sejak dulu merupakan salah satu favorit remaja di arena bermain di mal-mal.

DDR adalah permainan kategori musik berbasis video game Jepang. Biasanya, para pemain menggunakan lantai yang terdiri atas tombol empat sampai delapan arah sebagai tempat menari (dance stage). Setiap tombol harus diinjak sesuai dengan instruksi dan ritme musik yang tampil di layar monitor.

”Sayang, content-nya belum memperlihatkan jati diri budaya Indonesia,” kata Karina, mahasiswi angkatan 2007 Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, Selasa pekan lalu. Maksudnya, semua jenis dansa di DDR masih berbau asing dan belum ada yang membuat game berbasis tarian tradisional Indonesia. Padahal, kata Karina, kebudayaan tradisional bisa disatukan dalam satu produk permainan modern.

Maka, bersama dua teman seangkatannya, Nurfitri Anbarsanti dan Nadhilah Shabrina, Karina pun menciptakan Hands Revolution, yang mengemas tari Saman dalam bentuk DDR. Thousand Hands Revolution mengantarkan tiga mahasiswi yang dikenal dengan julukan Putri Petir itu meraih juara I lomba tingkat nasional dalam Electrical Engineering Awards 2009 untuk kategori electronic entertainment for culture development yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektro ITB akhir tahun lalu.

”Tim Putri Petir menyisihkan puluhan karya terbaik dari pelbagai universitas ternama di Indonesia,” kata Fitrian Pambudi, Ketua Himpunan Mahasiswa Elektro sekaligus panitia acara.

Menurut Nurfitri Anbarsanti, ide pembuatan game Revolusi Seribu Tangan memang muncul dari permainan DDR yang juga dapat dimainkan di rumah melalui video game console, seperti PlayStation, Nintendo, Xbox, Wii, bahkan komputer jinjing dan PC.

Tidak seperti DDR yang pada umumnya hanya menggunakan langkah kaki, dalam permainan Revolusi Seribu Tangan, para pemain diharuskan mengenakan baju adat asal Aceh yang didesain khusus. Ini bukan baju adat biasa. Lebih tepat disebut baju elektronik guna mengontrol permainan. Warna baju didominasi oleh warna kuning dan hijau. ”Di dalamnya telah dipasang 12 detektor untuk mendeteksi gerakan tari Saman,” kata gadis yang akrab dipanggil Santi ini.

Letak detektor, kata Santi, sengaja ditempel di bagian-bagian tubuh tertentu, seperti paha kanan dan kiri, bahu kanan dan kiri, telapak tangan kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, siku kanan dan kiri, serta dua lainnya diletakkan di lantai kanan dan kiri (lihat gambar). Jadi cara bermainnya adalah melakukan gerakan badan dan tepukan tangan laiknya tari Saman yang dilakukan sembari duduk berlutut.

Pemilihan tari Saman, yang juga dikenal dengan tari seribu tangan, untuk permainan Revolusi Seribu Tangan bukan tanpa alasan. Tarian asal suku Gayo, Aceh, ini telah mendunia. Tari ini biasa ditampilkan dalam acara adat, seperti perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nama ”Saman” berasal dari salah satu ulama Negeri Serambi Mekah, Syekh Saman. Awalnya, tari Saman digunakan untuk dakwah, pendidikan keagamaan dan sopan santun, serta pelatihan kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Karina mengatakan tari saman itu unik. ”Dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam memainkannya.” Selain itu, memainkan tari seribu tangan menuntut keserasian gerakan badan serta gerakan memukul dada dan pangkal paha. Meski demikian, permainan Revolusi Seribu Tangan ini menyediakan beberapa pilihan tingkat kesulitan permainan.

Perangkat yang dibutuhkan untuk memainkan tarian seribu tangan adalah sebuah komputer yang telah dijejali aplikasi permainan. Baju elektronik yang berfungsi sebagai peranti keras permainan, tinggal dihubungkan melalui sambungan kabel USB (Universal Serial Bus/standar interkoneksi antara komputer dan peralatan eksternal). Kelihaian pemain menepuk bagian tubuh yang ditunjuk dalam monitor akan mempertinggi skor para pemain. ”Semakin tinggi nilai, semakin sempurna tari yang dilakukan pemain,” katanya.

Sedikitnya ada 31 variasi gerakan yang akan terbaca dalam permainan. Mulai tepuk paha, bahu, lantai, siku, dan memiringkan badan. Setiap gerakan tari yang dianggap benar akan memperoleh poin nol sampai lima. Poin nol untuk setiap gerakan yang terlewatkan, satu untuk gerakan buruk tidak mengenai sasaran, tiga lumayan, dan lima sempurna. Selama dua menit, dalam iringan lagu daerah Aceh, pemain akan bersenang-senang mengumpulkan poin masuk ke dalam dunia seribu tangan.

Revolusi Seribu Tangan mulai dibuat Juli tahun lalu. Biayanya relatif kecil, sekitar Rp 400 ribu. Bahan yang dibutuhkan tak banyak, di antaranya baju, kain, karpet DDR, kabel, dan peralatan jahit. Pembuatan peranti lunak tidak membutuhkan biaya besar lantaran memanfaatkan komputer jinjing pribadi dan akses Internet untuk mengunduh aplikasi yang dibutuhkan. Kesulitannya justru terletak pada ide dan keleluasaan tim berkumpul lantaran kepadatan perkuliahan. ”Terutama mencari bahan dan menjahitnya,” kata Karina.

Peranti lunak yang digunakan dalam permainan Revolusi Seribu Tangan ini dibuat dua rekan mahasiswi dari Jurusan Teknik Informatika angkatan 2007, yaitu Sesdika Sansani dan Hapsari. Keduanya membuat program yang bisa memunculkan fitur permainan, menghitung skor per gerakan berdasarkan ketepatan gerakan dengan tempo musik, menghitung dan menampilkan total nilai, serta menampilkan nilai tertinggi dan pilihan tingkat kesulitan tes pakaian serta item memulai dan keluar dari program. ”Pokoknya ini murni girl power,” kata Karina sembari tersenyum.

Menurut Sesdika, peranti lunak Revolusi Seribu Tangan dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Java dan NetBeans (aplikasi berbasis sumber terbuka). ”Pembuatannya tidak terlalu sulit, tapi hanya terganjal waktu kuliah,” kata Sesdika. Total waktu pembuatan mencapai dua bulan lantaran pekerjaan pembuatan peranti lunak itu dikerjakan sedikit demi sedikit.

Java merupakan salah satu bahasa pemrograman berbasis obyek secara murni. Operasi ini memudahkan pemrogram mendesain, membuat, mengembangkan, dan mengalokasi kesalahan sebuah program secara cepat, tepat, mudah, dan terorganisasi. Selain mampu dioperasikan di beberapa sistem operasi komputer, Java terkenal dengan kelengkapan library atau kumpulan program yang disertakan dalam pemrograman Java yang sangat memudahkan penggunaan oleh pemrogram untuk membangun aplikasinya.

Karina sadar bahwa game buatan tim Putri Petir—nama yang terinspirasi oleh gambar petir di logo Jurusan Teknik Elektro—masih perlu disempurnakan. Ukuran bajunya, misalnya, mesti dibuat lebih variatif untuk mengantisipasi pelbagai ukuran badan pemain. Letak sensor gerak dan jalur kabel juga perlu ditata ulang agar nyaman bagi para pemain. Bahan pakaian pun harus dicari agar tidak mudah kotor dan gampang dibersihkan.

Rudy Prasetyo






Noh Alam Shah’s Fantastic Goal for Arema

10 01 2010